Jumat, 30 September 2016

KALAU KAMU PACARAN, TERUS PUTUS, SIAPA YANG RUGI COBA?!

Jatuh cinta, pasti setiap orang pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Apalagi kalau cintanya terbalas, seakan dunia hanya milik berdua. Kalau keduanya sudah sama-sama suka, kata pacaran pun tak dapat dihindarkan. 

Apa yang terjadi jika salah satu merasa bosan, atau ada orang ketiga? Gelisah, galau, merana menjadi makanan sehari-hari. Kalau sudah begitu, yang rugi siapa? Siapa suruh pacaran? Mereka yang sakit hati kadang tidak terkontrol sampai ada yang bunuh diri, dosa dampaknya. Serem, ya?

Dalam quotesnya Tere Liye, penulis favoritku mengatakan:  "Jadi jomblo itu jelas lebih baik, lebih oke, dari pada punya pasangan tapi kerjaannya ribut, curhat, galau, baper melulu di media sosial. Rugi waktu, rugi pikiran, rugi dompet pula." Nah, kalau begini siapa yang rugi? Sama-sama rugikan."

Jomblo, tidak semuanya ngenes ada juga yang happines. Jomblo, hidupnya juga selalu aman. Dan tahukah kamu, saat cinta tak dapat memiliki. Masih ada cinta yang lain, cinta dari Sang Maha Cinta.

Kadang memang aku selalu bertanya, kenapa harus aku, yang perjalanan cintanya tidak seindah mereka. Tetapi aku merasa Allah mencintaiku. Dia mengujiku dengan cinta-Nya. Apakah aku lebih cinta kepada-Nya atau cinta kepada makhluk-Nya.

Hal itu lah yang membuatku malu pada Rabbku. Amalku cacat, ibadahku berpenyakit tetapi karunianya sangat-sangat sempurna.  Oleh karena itu, pacaran banyak ruginya, merugikan diri sendiri dan orang lain yang menjadi pasangannya, itu menurutku.

Dalam Al-qur'an juga disebutkan, " Manusia itu diciptakan berpasang-pasangan." Toh, semua manusia sudah ada pasangannya kan? Tinggal kitanya saja mau memperbaiki diri atau tidak? karena, wanita yang baik itu untuk lelaki yang baik, begitu juga sebaliknya lelaki yang baik untuk wanita yang baik.

Kesimpulannya sebenarnya jodoh itu tidak jauh-jauh dari cerminan diri sendiri, seperti apa dirinya begitulah yang akan menjadi jodohnya. Jadi, mari kita memperbaiki diri saja dulu. Selain untuk mendapatkan jodoh yang baik, kita juga akan mendapatkan cinta-Nya.

Bukan bermaksud membuat kalian yang sudah punya pacar terus putus, bukan begitu juga. Tetapi, memang lebih bagus mencintai dalam diam dan semoga dipertemukan dalam ikatan cinta yang halal nantinya.

HANYA ALLAH YANG MENENTUKAN, SEKALIPUN DOKTER SUDAH NYATAKAN KEMATIAN

“Maaf usia Ibu di perkirakan tinggal tiga tahun lagi, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi penyakit yang Ibu derita sudah memasuki stadium akhir," ucap seorang dokter kepada pasiennya.

Percakapan di atas adalah sebuah contoh jika seorang pasien terkena penyakit berbahaya dan dokter memvonis umurnya tidak akan lama lagi.

Sebagai pasien, apa yang dikatakan dokter tersebut tentu menjadi boomerang baginya. Walau tetap semangat menjalankan kehidupan, hal itu hanya membuktikan bahwa dia tidak lemah dan ingin memberi yang terbaik untuk orang-orang yang menyayanginya.

Dokter,  memang bisa memprediksi, dan itu tidak main-main. Jika dia memeriksa bagian tubuh kita, tentu dia dapat mengetahui keadaan penyakit atau apa yang terjadi di dalam tubuh manusia. Misalnya saja sakit jantung, diabetes, kanker, dan penyakit lainnya yang berbahaya bagi kelangsungan hidup pasien.

Kita boleh saja percaya, tetapi tidak ada yang mengetahui umur manusia selain Allah.  Karena hanya Dialah yang mengetahui segala sesuatu.

Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu lahirkan dan rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus dan Maha Mengetahui.” (QS. 67:14)

Dan Dia yang berkuasa atas sekalian hamba-hambanya. Dan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. 6:18).

Sejatinya Allah Maha Tahu akan segalanya. Karena itu janganlah kita mengira penyakit yang menimpa kita itu akan dibiarkan begitu saja tanpa ada hikmahnya.

Mungkin, itu adalah ujian dari Allah agar ia bisa lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaanya kepada Allah SWT. Dan Allah, tidak akan menguji seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." ( QS. 2:286) 

Dalam buku Allah De Otesini Birak, Ugur Kosar mengatakan, "Katakan Allah! Selebihnya Serahkan kepada-Nya!"

Jika kita merasa apa yang terjadi itu tidak adil maka kita telah berburuk sangka kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Karena tidaklah pantas seorang hamba menguji Tuhannya.

Kita mendekatkan diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya bertawakal, maka seluruh sel dalam tubuh pastilah akan merasakan keberadaan rahmat-Nya.

Itu berati kita harus selalu bersyukur dengan apa yang terjadi dan jangan mudah mengeluh atau berputus asa. Karena kehendak-Nya lah yang paling baik.